RSS

Perkembangan Kecerdasan Dan Gaya Belajar Anak

10 Jul

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Proses belajar terjadi melalui banyak cara baik disengaja maupun tidak disengaja dan berlangsung sepanjang waktu dan menuju pada suatu perubahan pada diri pembelajar. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan perilaku tetap, berupa pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan kebiasaan yang baru diperoleh individu. Sedangkan pengalaman merupakan interaksi antar individu dengan lingkungan sebagai sumber belajarnya. Belajar diartikan sebagai proses perubahan perilaku tetap dari belum tahu menjadi tahu, dan tidak paham menjadi paham, dari kurang terampil menjadi terampil, dan dari kebiasaan lama menjadi kebiasaaan baru, serta bermanfaat bagi lingkungan maupun individu (Trianto, 2009: 16-17).

Bruner mengungkapkan bahwa berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Suatu konsekuensi logis, karena dengan berusaha untuk mencari pemecahan masalah secara mandiri akan memberikan pengalaman konkret, dengan pengalaman tersebut dapat digunakan pula memecahkan masalah-masalah serupa, karena pengalaman itu memberikan makna tersendiri bagi peserta didik (Trianto, 2010:7).

Arends (Trianto, 2010:7) menyatakan bahwa guru dalam mengajar selalu menuntut siswa untuk belajar dan jarang memberikan pelajaran tentang bagaimana siswa belajar, guru menuntun siswa untuk menyelesaikan masalah, tapi jarang mengajarkan bagaimana siswa seharusnya menyelesaikan masalah.

Keadaan seperti ini membuat pembelajaran di sekolah terasa tidak bermakna. Baik itu dari pihak guru terlebih dari para siswa. Masalah ini berhubungan erat dengan bagaimana guru mengetahui kemampuan (bakat umum) dan bagaimana cara belajar peserta didik (anak).

Pandangan teori modern tentang pendidikan dewasa ini melihat peserta didik adalah subjek atau pesona, yakni makhluk yang mempribadi tidak lagi sebagai objek yang non-pribadi. Peserta didik adalah subjek yang otonom, memiliki motivasi, hasrat, ambisi, ekspresi, cita-cita, mampu merasakan kesedihan, bisa senang dan bisa marah, dan sebagainya. Semua keunikan yang ada pada diri peserta didik sebagai pribadi manusia jelas dapat menjadi indikator yang membedakan antara dirinya dengan yang lain. Oleh karena itu, kehidupan manusia perlu diarahkan oleh kecerdasan rasio, kepekaan hati nurani, dan kebaikan budi pekerti yang menyatu menjadi satu kesatuan tak terpisahkan, sehingga dalam jangka panjang dapat melahirkan kemajuan (Rohman, 2009:108).

Khusus mengenai kecerdasan pada diri manusia, Howard Gardner menyebut kecerdasan manusia tidak bersifat tunggal namun bervariasi menurut konteksnya. Gardner mengklasifikasikannya menjadi delapan kecerdasan manusia (multiple inteligence) yaitu: kecerdasan linguistik, logis matematis, visual spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal dan naturalis (Rose dan Nicholl, 2002:59).

Pemahaman terhadap bagaimana belajar dengan baik atau gaya belajar yang baik, di identifikasi oleh para pakar pemrograman Neuro-Linguistik seperti Richard Blinder, John Grinder, dan Michael Grinder, yaitu: 1) visual, 2) auditori, 3) kinestik.

Menurut teori Gardner tentang multi kecerdasan, mana diantara kedelapan kecerdasan tersebut yang mungkin digunakan peserta didik untuk belajar. Sebagai guru atau orang tua, seharusnya memahami bagaimana cara menyesuaikan pembelajaran sesuai gaya belajar anak (Slavin, 2008:164).

Oleh sebab itu, pemahaman terhadap kecerdasan dan gaya belajar peserta didik sebagai konsekwensi perbedaan setiap individu mengharuskan guru mengetahui dan memahami setiap peserta didiknya agar pembelajaran menjadi bermakna dan siswa dapat menyerap materi secara sempurna.

B. Rumusan masalah

1. Bagaimana perkembangan kecerdasan anak ?

2. Bagaimana gaya belajar anak ?

3. Bagaimana cara guru membelajarkan anak sesuai dengan kecerdasan dan gaya belajar ?

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui proses perkembangan kecerdasan anak

2. Mengetahui gaya belajar anak

3. Mengetahui cara guru membelajarkan anak sesuai dengan kecerdasan dan gaya belajar

D. Metode penulisan

Penelitian ini dilakukan menggunakan metode telaah kepustakaan atau studi dokumentasi.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Perkembangan kecerdasan anak

Pandangan modern tentang pendidikan dewasa ini melihat peserta didik adalah subjek atau pesona, yakni makhluk yang mempribadi tidak lagi sebagai objek yang non pribadi sebagaimana pandangan para ahli pada abad pertengan. Peserta didik adalah subjek yang otonom, memilki motivasi, hasrat, ambisi, ekspresi, cita-cita, mampu merasakan kesedihan, bisa senang dan bisa marah, dan sebagainya. Selaku subjek atau pesona yang memiliki otonomi, ia ingin mengembangkan diri (mendidik diri) serta terus menerus agar bisa memecahkan masalah-masalah hidup yang dijumpai sepanjang hidupnya.

a. Pengertian Kecerdasan

Kecerdasan dapat didefinisikan sebagai suatu bakat umum untuk belajar atau suatu kemampuan untuk mempelajari dan menggunakan pengetahuan atau keterampilan ( Slavin, 2008:163)

Gardner (Rose dan Nicholl, 2003 : 58) mendefinisikan kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan masalah atau menciptakan suatu produk yang bernilai dalam satu latar belakang budaya atau lebih.

b. Delapan Kecerdasan

1) Kecerdasan Linguistik (Bahasa)

Kemampuan membaca, menulis dan berkomunikasi dengan kata-kata atau bahasa. Penulis jurnalis, penyair, orator dan pelawak adalah contoh nyata orang yang memiliki kecerdasan linguistik (Rose dan Nicholl, 2003:59)

Kecerdasan linguistik-verbal mengacu pada kemampuan untuk menyusun pikiran dengan jelas dan mampu menggunakan kemampuan ini secara kompeten melalui kata-kata untuk mengungkapkan pikiran-pikiran ini dalam berbicara, membaca, dan menulis. Kecerdasan ini sangat dihargai dalam dunia modern sekarang, karena orang cenderung untuk menilai orang lain dari cara mereka berbicara dan menulis. Seseorang dengan kecerdasan verbal yang tinggi tidak hanya akan memperlihatkan suatu penguasaan bahasa yang sesuai, tetapi juga dapat menceritakan kisah, berdebat, berdiskusi, menafsirkan, menyampaikan laporan, dan melaksanakan berbagai tugas lain yang berkaitan dengan berbicara dan menulis. (Lwin dkk, 2008:11)

2) Kecerdasan Logis-Matematis

Kecerdasan logis-matematis adalah kemampuan berpikir (menalar) dan menghitung, berpikir logis dan sistematis (Rose dan Nicholl, 2003:59).

Anak-anak yang cerdas secara matematis sering tertarik dengan bilangan dan pola dari usia yang sangat muda. Mereka senang melihat pola dalam informasi mereka, dan mereka dapat mengingat bilangan dalam pikiran mereka untuk jangka waktu yang lebih panjang, menjelaskan konsep-konsep secara logis, atau menyimpulkan informasi menggunakan matematika dapat meningkatkan pemahaman mereka (Lwin dkk, 2008:43)

3) Kecerdasan Visual-Spasial

Kemampuan berpikir menggunakan gambar, memvisualisasikan hasil masa depan. Membayangkan berbagai hal pada mata pikiran. Orang yang memiliki jenis kecerdasan ini antara lain para arsitek, seniman, pemahat, pelaut, fotografer dan perencana strategis (Rose dan Nicholl, 2003:59).

4) Kecerdasan Musikal

Kecerdasan musikal adalah yang pertama dari kecerdasan yang harus dikembangkan dari sudut pandang neurologis, berkat dunia suara, irama dan getaran yang dirasakan sementara, waktu masih berada di dalam kandungan (Lwin dkk, 2008 : 136)

Kecerdasan musikal adalah kemampuan untuk menyimpan nada dalam benak seeseorang, untuk mengingat irama itu dan secara emosional terpengaruh oleh musik (Lwin dkk, 2008 : 135)

Kecerdasan musikal adalah kemampuan menggubah atau mencipta musik, dapat bernyanyi dengan baik, atau memahami dan mengapresiasi musik, serta menjaga ritme. Ini merupakan bakat yang dimiliki oleh para musisi, komposer, dan perekayasa rekaman. Tetapi, kebanyakan orang memilki kecerdasan musikal dasar yang dapat dikembangkan (Rose dan Nicholl, 2003:59-60).

5) Kecerdasan kinestetik-Tubuh

Kecerdasan kinestetik memungkinkan manusia membangun hubungan yang penting antara pikiran dan tubuh, dengan demikian memungkinkan tubuh untuk memanipulasi obyek dan menciptakan gerakan (Lwin dkk, 2008:167).

Kecerdasan kinestetik-Tubuh adalah kemampuan menggunakan tubuh secara terampil untuk memecahkan masalah, meciptakan produk atau mengemukakan gagasan dan emosi. Kemampuan ini jelas diperlihatkan untuk mengejar prestasi atletik, seni seperti menari dan akting, atau dalam bidang bangunan dan konstruksi (Rose dan Nicholl, 2003:60).

6) Kecerdasan Interpersonal (Sosial)

Kecerdasan Interpersonal adalah kemampuan untuk berhubungan dengan orang-orang di sekitar. Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk memahami dan memperkirakan perasaan, temperamen, suasana hati, maksud dan keinginan orang lain dan menanggapinya secara layak. Kecerdasan inilah yang memungkinkan kita untuk membangun kedekatan, pengaruh, pimpinan dan membangun hubungan dengan masyarakat. Kecerdasan interpersonal bukan sesuatu yang dibawa dari lahir, tetapi sesuatu yang harus dikembangkan melalui pembinaan dan pengajaran, sama seperti kecerdasan lainnya. Karena itu waktu terbaik untuk mulai membangun kecerdasan interpersonal anak adalah ketika dia masih muda (Lwin dkk, 2008:197).

Kecerdasan Interpersonal (sosial) adalah kemampuan bekerja secara efektif dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain dan memperlihatkan empati dan pengertian, memperhatikan motivasi dan tujuan mereka. Kecerdasan jenis ini biasanya dimiliki para guru yang baik, fasilitator, politisi, dan pemuka agama (Rose dan Nicholl, 2003:60).

7) Kecerdasan Intrapersonal

Kecerdasan intrapersonal adalah kecerdasan mengenai diri sendiri. Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk memahami diri sendiri dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri (Lwin dkk, 2008:233).

Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan menganalisis diri dan merenungkan diri, mampu merenung dalam kesunyian dan menilai prestasi seseorang, meninjau perilaku seseorang dan perasaan-perasaan terdalamnya, membuat rencana dan menyusun tujuan yang hendak dicapai, mengenal benar diri sendiri. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh para filosof, penyuluh, pembimbing, dan banyak penampil puncak dalam setiap bidang (Rose dan Nicholl, 2003:60).

8) Kecerdasan Naturalis

Kecerdasan naturalis adalah kemampuan mengenal flora dan fauna, melakukan pemilahan-pemilahan runtut dalam dunia kealaman, dan menggunakan kemampuan ini secara produktif, misalnya untuk berburu, bertani atau melakukan penelitian biologi. Para petani, para ahli tumbuhan (botanis), konservasi, biologi, lingkungan, semuanya memperlihatkan aspek-aspek kecerdasan ini (Rose dan Nicholl, 2003:60).

B. Gaya Belajar

a. Pengertian Belajar Anak SD

Belajar adalah suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan untuk mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sebagainya (Dalyono,2010 : 48).

Banyak ahli pendidikan yang mendefinisikan pengertian belajar sebagai berikut:

1) Menurut Hilgard dan Gordon‘’Belajar menunjuk ke perubahan dalam tingkah laku si subjek dalam situasi tertentu berkat pengalaman yang berulang-ulang, dan perubahan tingkah laku tersebut tak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan-kecenderungan respons bawahan, kematang atau keadaan temporer dari subjek ( misalnya keletihan, dan sebagainya)’’(Hamalik, 2008)

2) Menurut Crombach belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami; dan dalam mengalami itu si pelajar mempergunakan pancainderanya (Suryabrata, 2010: 231)

3) Anthony Bobbins menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses aktif dimana siswa membangun (mengkonstruk) pengetahuan baru berdasarkan pada pengalaman/pengetahuan yang sudah dimilikinya (Trianto, 2010: 15)

4) Witherington (1952) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respon yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan cakupan (Suyono,2011: 11)

5) Nasution menyatakan bahwa belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan(Carapedia, 2011: Online)

b. Teori-teori Gaya Belajar

Sebagaimana siswa-siswa mempunyai kepribadian yang berbeda-beda. Misalnya, pikirkanlah bagaiman mempelajari nama-nama orang yang ditemui. Apakah mempelajari suatu nama dengan lebh baik kalau melihatnya dituliskan? Kalau ya, mungkin adalah seorang pelajar visual, yaitu orang yang belajar paling baik dengan melihat atau membaca. Kalau mempelajari suatu nama denagn lebih baik dengan mendengarkan, mungkin adalah seorang pelajara auditori. Tentu saja, kita semua belajar dengan banyak cara, tetapi sebagian diantara kita belajar dengan lebih baik dengan beberapa cara daripada dengan cara lain (McCarthy, 1997; Swisher & Schoorman, 2001).

Ada babarapa perbedaaan lain dalam gaya belajar yang telah dipelajari oleh para ahli psikologi pendidikan. Salah satu terkait dengan kebergantungan lapangan (fielddependence) versus ketidakbergantungan lapangan (fiendindependence) (Kogan, 1994). Orang-orang yang bergantung pada lapangan cenderung melihat pola secara keseluruhan dan mengalami kesulitan memisahkan aspek-aspek tertentu suatu situasi atau pola; orang-orang yang tidak bergantung pada lapangan lebih mampu melihat bagian-bagian yang membentuk suatu pola yang besar. Orang-orang yang bergantung pada lapangan cenderung lebih berorientasi pada orang dan hubungan sosial daripada orang-orang yang tidak bergantung pada lapangan.; misalnya mereka yang cenderung tampil lebih baik dalam mengingat kembali informasi sosial seperti pembicaraan dan hubungan, bekerja lebih baik dalam kelompok, dan lebih menyukai pokok persoalan seperti sejarah dan sastra. Orang yang tidak bergantung pada lapangan tidak mempunyai kemingkinan yang lebih besar untuk tampil dengan baik dalam angka-angka, ilmu pengetahuan alam, dan tugas-tugas penyelesaian masalah (Wapner & Demick, 1991).

Siswa-siswa juga mungkin saja berbeda-beda pilihan menyangkut lingkungan atau kondisi belajar yang berbeda. Misalnya, Dunn dan Dunn (1993) menemukan bahwa siswa-siswanya berbeda pilihan tentang hal-hal seperti jumlah cahaya, tempat duduk yang keras atau lembut, lingkungan sekitar yang tenang dan ribut, dan bekerja sendirian atau bersama teman. Perbedaan-perbedaan ini dapat memperkirakan hingga batas tertentu lingkungan belajar mana yang akan paling efektif bagi masing-masing anak (Slavin, 2008: 168)

c. Macam-macam gaya belajar

Mungkin anda mulai mengenali diri anda? Sebuah penelitian ekstensif, khususnya di Amerika Serikat, yang dilakukan oleh Profesor Ken dan Rita Dunn dari Universitas St. John, di Jamaica, New York, dan para pakar Pemprograman Neuro-Linguistik seperti, Richard Bandler, John Grinder, dan Michael Grinder, telah mengidentifikasi tiga gaya belajar dan komunikasi yang berbeda:

1) Visual. Belajar melalui melihat sesuatu. Kita suka melihat gambar atau diagram. Kita suka pertunjukan, peragaan atau menyaksikan video.

2) Auditori. Belajar melalui mendengar sesuatu. Kita suka mendengarkan kaset audio, ceramah-kuliah, diskusi, debat dan instruksi (perintah) verbal.

3) Kinestetik. Belajar melalui aktivitas fisik dan keterlibatan langsung. Kita suka menangani , bergerak, menyentuh dan merasakan/mengalami sendiri.

Semua kita, dalam beberapa hal, memanfaatkan ketiga gaya tersebut. Tetapi, kebanyakan orang menunjukkan kelebihsukaan dan kecendrungan pada satu gaya belajar tertentu dibandingkan dua gaya lainnya. Suatu studi yang dilakukan terhadap lebih dari 5.000 siswa di Amerika Serikat, Hongkong, dan Jepang, kelas 5 hingga 12, menunjukkan kecenderungan belajar berikut:

Visual : 29%

Auditori : 34%

Kinestetik : 37%

Namun, pada saat mereka mencapai usia dewasa, kelebihsukaan pada belajar visual ternyata lebih mendominasi, menurut Lynn O’Brien, direktur Studi Diagnostik Spesifik Rockville, Maryland, yang melakukan studi tersebut.

C. Cara Guru Membelajarkan Anak

Guru merupakan orang tua sekaligus pendidik di dalam sekolah. Seorang guru harus memahami gaya belajar anak. Seorang guru harus mampu menciptakan strategi-strategi belajar sesuai dengan gaya belajar peserta didiknya.

a. Strategi Visual

Peta konsep atau peta pembelajaran adalah cara dinamis untuk menangkap butir-butir pokok informasi yang saling signifikan. Mereka menggunakan format global atau umum, yang memungkinkan informasi ditunjukkan dalam cara seperti otak kita berfungsi dalam berbagai arah secara serempak.

Penelitian yang dilakukan oleh Robert Ornstein dan lain-lain telah menunjukkan bahwa proses berpikir adalah kombinasi kompleks kata, gambar, skenario, warna dan bahan bahkan musik. Dengan demikian, proses menyajikan dan menangkap isi pelajaran dalam peta-peta konsep mendakat operasi alamiah dalam berpikir.

Otak dapat dipandangkan sebagai hutan raya tempat puluhan ribu pohon dengan ratusan ribu cabang besar, jutaan dahan, dan miliaran ranting. Peta konsep dibuat dengan cara yang sama seperti halnya informasi disamping pada cabang-cabangdari tempat sentral meskipun skalanya lebih kecil. Dalam menyusun peta konsep gaya memprosesan belahan kiri dan belahan kanan otak dilibatkan secara penuh.

Cara/langkah guru dalam pembelajaran visual :

a. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta,

b. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.

c. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.

d. Gunakan multi-media seperti komputer dan video.

e. Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

b. Strategi Auditori

Seperti halnya citra visual, demikian pula suara. Maka jika suatu pesan kritis atau sulit, coba baca pesan itu keras-keras dengan dramatis. Memberi tekanan auditori ini pada suatu bahan yang sedang kita pelajari akan membantu melekatkannya pada pikiran.

Dr. Win Wenger dari Proyek Renaisains di Gaithersburg, Maryland, mengamati bahwa kunci belajar terletak pada apa yang disebut artikulasi terinsi. Tindakan mendeskripsikan sesuatu yang akan mempertajam persepsi dan memori tentangnya. Lebih banyak perkaitan atau asosiasi akan mudah mengingat

Cara/langkah dalam pembelajaran Auditori :

a. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga

b. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras

c. Gunakan musik untuk mengajarkan anak

d. Diskusikan ide dengan anak secara verbal

e. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset

c. Strategi Kinestetik

Di sekolah kita dianjurkan untuk diam ditampat duduk masing-masing. Itu ketika kita belum menyadari bahwa para siswa yang cenderung pada “fisikal” membutuhkan beberapa cara untuk mengungkapkan kecenderungan atau pilihan kesukaannya itu.

Eksperimen tentang seberapa banyak membutuhkan suatu elemen fisik bagi cara menyerap informasi. Sebagai contoh, bangku atau meja yang terpaku di tempat mungkin tidak bekerja sebaik papan pangku (Rose dan Nicholl, 2002: 130-144).

Cara/langkah guru dalam pembelajaran Kinestetik:

a. Dalam kegiatan belajar, jangan terlalu banyak memberikan materi, sesekali berikan

b. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru)

c. Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan

d. Ciptakan suasana belajar kooperatif

e. Mengajak siswa belajar dengan bermain peran.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Anak memiliki delapan kecerdasan yaitu kecerdasan linguistik (bahasa), kecerdasan logis-matematis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik-tubuh, kecerdasan interpersonal (sosial), kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis.

Gaya belajar anak terdiri dari 3 macam yaitu :

a) Visual. Belajar melalui melihat sesuatu. Kita suka melihat gambar atau diagram. Kita duka pertunjukan, peragaan atau menyaksikan video.

b) Auditori. Belajar melalui mendengar sesuatu. Kita suka mendengarkan kaset audio, ceramah-kuliah, diskusi, debat dan instruksi (perintah) verbal.

c) Kinestetik. Belajar melalui aktivitas fisik dan keterlibatan langsung. Kita suka menangani , bergerak, menyentuh dan merasakan/mengalami sendiri.

Cara guru membelajarkan anak sesuai dengan kecerdasan dan gaya belajar anak itu sendiri

B. Saran

Agar pembelajaran berjalan dengan baik, penuh makna, motivsi dan menyenangkan, hendaknya guru memahami macam-macam kecerdasan dan bagaimana cara belajar anak. Setiap anak berbeda dengan satu sama lain, maka guru hendaknya semakin memahami peserta didik sebagai tanggung jawab dan perannya sebagai pendidik.

DAFTAR PUSTAKA

Carapedia. 2011. Pengertian Defenisi Belajar. (Online). http://carapedia.com/pengertian_definisi_belajar_menurut_para_ahli_info499.html (diakses pada hari Rabu, 15 Februari 2012).

Dalyono. 2010. PsikologiPendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamalik, O. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Sinar Grafika.

Lwin, May dkk. 2008. How To Multiply Your Child’s Intelligence (Cara mengembangian berbagai komponen kecerdasan). Jakarta: Indeks.

Rohman, Arif, 2009. Memahami Pendidikan dan Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: LaksBang Mediatama.

Rose, Colin dan Malcom J. 2003. Nicholl. Accelerated Learning For The 21st Century.Bandung : Nuansa

Slavin, Robert E. 2008. Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik. Jakarta : PT Indeks

Suyono. & Harianto. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta. Kencana Prenada Media Group.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 10, 2012 in Education

 

Tag: ,

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
nothing but badminton.

seorang penggila bulutangkis yang mencoba menyelami warna-warni dunia tepok bulu angsa

kkumfiction

Its all about our dream fiction, we create some fanfiction with your kpop idol, so please enjoy ^^

Unie is Power

Place to write, read and dream

%d blogger menyukai ini: